-- Sido Muncul Store -- Aneka Produk Jamu, Obat, dan Suplemen Herbal dari Sido Muncul Store di Tokopedia
Tampilkan postingan dengan label krisis ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label krisis ekonomi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Agustus 2015

Aktivis Ingatkan Ancaman Krisis Ekonomi Seperti Yunani

Meningkatkan jumlah utang luar negeri Indonesia menunjukkan Nawa Cita yang diusung Jokowi-JK mulai dilupakan. Upaya mencapai kemandirian ekonomi tidak maksimal. Bahkan, muncul kekhawatiran akan terjadinya krisis ekonomi di Tanah Air.

Ketua Umum Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Jami Kuna mengata­kan, kondisi ekonomi Indonesia akhir-akhir ini sudah mengkha­watirkan. "Di samping daya beli masyarakat yang melemah akibat dari krisis global ternya­ta adalagi dampak lain yang mungkin saja kita bisa meny­usul Yunani yang dilanda krisis ekonomi," katanya dalam siaran persnya, kemarin.

Dia menuturkan, utang luar negeri Indonesia yang sudah me­lebihi batas berbahaya bagi ke­langsungan denyut nadi ekonomi Indonesia secara keseluruhan. "Namun yang perlu diperhatikan adalah siapa sebenarnya yang mempunyai utang, pemerintah atas nama dan kebutuhan rakyat atau swasta?" katanya.

Pihaknya sebagai generasi muda mengaku tak habis pikir kenapa lebih dari 50 persen utang Indonesia adalah utangnya swasta. "Namun kenapa rakyat yang ikut menanggung, bukankah selama ini para pengusaha tidak pernah memikirkan nasib para buruh­nya. Jangan lupa buruh merupa­kan masyarakat mayoritas negeri ini," tekannya.

Jami menilai pemerintah hari ini sudah keblinger. "Pemerintah perlu sama-sama kita ingatkan. Jangan biarkan rakyat yang selalu kena getahnya, sedang­kan keuntungan yang selama ini didapat oleh para pengusaha se­lalu mereka nikmati sendiri. Lalu mengapa giliran susah rakyat ikut diseret seret," ucapnya.

Dia mengingatkan, pemerintah jangan bernafsu untuk men­gubah Indonesia seperti negara-negara barat.

"Ingat, pemerintah hari ini sudah melanggar amanah konsti­tusi seperti pasal 27 dan pasal 33 serta Pancasila sebagai falsafah dalam berbangsa dan berne­gara. Sekarang ini sudah bukan waktunya lagi untuk pencitraan. Segera terapkan Trisakti Bung Karno yang terbungkus dalam Nawa Cita," tandasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi VI DPR Achmad Hafisz Tohir, mengatakan, 8 bulan berkuasa, pemerintahan Jokowi-JK sudah membuat utang baru senilai Rp 859 triliun. Utang tersebut berasal dari pinjaman World Bank senilai 12 miliar dolar Amerika Serikat atau setara Rp 143 triliun, dari Tiongkok Rp 650 triliun dan pinjaman dana IDB sebesar Rp 66 triliun.

"Utang tersebut di luar lelang surat utang negara (SUN) dalam valuta asing berdenominasi Euro seri RI-Euro725 senilai 1,25 miliar Euro dengan tenor 10 tahun pada Kamis 23 Juli lalu," ungkapnya.

Menurut Achmad, prilaku pemerintah yang suka utang sesungguhnya membuat nilai tukar rupiah semakin terpuruk. "Makanya kami selalu kritik bahwa mazhab utang luar negeri sebagai cara memacu pertumbu­han ekonomi baru yang dianut oleh pemerintah ini," ujarnya.

Kondisi tersebut diperparah dengan turunnya jumlah in­vestasi baik dari penanaman modal dalam negeri maupun luar negeri. Sementara daya beli masyarakat juga terus tergerus terutama di sektor konsumsi, yang mengakibatkan turunnya pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Dia mengimbau tim ekonomi Jokowi-JK bergerak cepat den­gan memaksimalkan seluruh po­tensi belanja APBN yang lebih dari Rp 2 ribu triliun. "Ini tentu sangat tepat untuk mendorong kembali pertumbuhan ekonomi yang mengalami perlambatan di kuartal pertama tahun ini. Caranya, percepat pembangunan infrastruktur jalan tol, pelabuhan, rel kereta ganda, dan bandara baru dengan melibatkan BUMN dan swasta dalam pendanaan dan pengerjaan. Jangan nambah utang," tandasnya.*rmol

Investor Asing Menarik Dana dari Indonesia

Investor sepertinya semakin realistis. Ini tampak dari aliran dana asing yang mengecil di pasar saham. Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing hanya mencatat pembelian bersih Rp 3,87 triliun sejak awal tahun hingga akhir Juli. Padahal, tujuh bulan pertama 2014, pembelian bersih mereka mencapai Rp 57,2 triliun.

Awal tahun 2015, dana panas deras masuk ke pasar saham dan obligasi Indonesia. Setelah menyesap keuntungan dan melihat tanda-tanda pelambatan ekonomi, investor asing angkat koper dari pasar Indonesia. "Ini juga yang bikin rupiah melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Mereka menjual saham dan obligasi lalu menukar ke dollar AS," ujar seorang tresuri Bank Eropa di Singapura kepada Kontan, akhir pekan lalu.

Kepala Riset Universal Broker Satrio Utomo menilai, ada tiga faktor yang menyebabkan dana asing merosot. Pertama, pelambatan ekonomi yang membuat pemodal malas berinvestasi. Kedua, nilai tukar rupiah terus melemah. Ketiga, rencana The Fed mengerek suku bunga.

Analis Investa Saran Mandiri, Hans Kwee, melihat, dana asing cenderung stabil. Pemodal asing menghadapi dua risiko: investasi dan pelemahan nilai tukar rupiah. Kondisi Tiongkok dan Yunani memengaruhi persepsi asing tentang risiko di negara berkembang. "Risiko global naik, (investor) asing keluar dari negara berkembang," ucap Hans, Minggu (2/8/2015).

Reza Priyambada, Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, menambahkan, pemerintah harus segera mengeksekusi dan memperbesar porsi anggaran pembangunan. Pasar saham Indonesia sebenarnya masih menarik. "Dengan catatan, kondisi makro dan pasar modal juga mendukung," imbuh Reza.

Hans melihat, ada ekspektasi bahwa kenaikan suku bunga AS mundur dari September ke Desember. Akibatnya, dana asing masuk Rp 341 miliar pada Jumat (31/7/2014). November nanti atau menjelang kenaikan suku bunga, investor asing akan banyak melepas saham di Indonesia. Pasalnya, sebagian dana asing adalah pinjaman dengan bunga rendah.

Dengan kenaikan suku bunga AS, pemodal asing akan menghitung kembali investasi mereka. Hans memprediksi, tahun depan, investor asing akan mencatatkan inflow dengan nilai seperti pada tahun 2009-2011. Ada pernyataan dari investor AS bahwa kinerja korporasi bagus karena bunga rendah.

Jika suku bunga tinggi, kinerja korporasi akan turun. Maka dari itu, investor asing masuk ke negara berkembang. Hans menyarankan kepada investor domestik untuk melakukan akumulasi. Menurut dia, ini periode penurunan saham besar. Jika proyek infrastruktur berjalan baik, Hans memprediksi bahwa IHSG akan berada di level 5.600. Adapun Satrio memperkirakan IHSG di level 4.500-5.650 pada akhir tahun.*kompas

Arsip Blog