-- Sido Muncul Store -- Aneka Produk Jamu, Obat, dan Suplemen Herbal dari Sido Muncul Store di Tokopedia
Tampilkan postingan dengan label saham. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label saham. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 April 2015

Kenali Beberapa Hal Sebelum Berinvestasi Saham

Tahukan kita apa yang dimaksud dengan Portofolio? Portofolio merupakan kumpulan aset investasi yang dimiliki oleh perorangan atau perusahaan, seperti : properti, deposito, saham, emas, obligasi, dan lain sebagainya. Karena Portofolio ini merupakan kumpulan aset investasi, maka diperlukan Manajemen Portofolio guna mengelola kumpulan aset investasi tersebut untuk mencapai tujuan investasi. Salah satu cara yang digunakan untuk mengelola Portofolio yang kita miliki adalah meminimalkan resiko, termasuk dalam hal ini adalah meminimalkan resiko pada investasi saham yang kita lakukan. 

Sebelum melakukan manajemen portofolio, sebaiknya kita mengecek terlebih dahulu profile masing-masing investasi. Karena masing-masing profile investasi berbeda-beda dan ini bisa berpengaruh terhadap jenis saham yang akan kita jadikan investasi. Selain itu, pentingnya memperhatikan COR (Capital, Objective, and Risk), karena COR akan berbeda untuk masing-masing profile.

Capital - adalah modal. Modal yang kecil sebaiknya digunakan untuk investasi saja, karena jika digunakan untuk trading kurang liquid, selain itu modal yang kecil sangat terbatas untuk memilih jenis saham yang akan kita gunakan sebagai investasi. Dengan modal kecil juga perlu diperhatikan mengenai biaya trading, karena otomatis fee akan lebih besar. Jadi untuk modal kecil (5 juta - 20 juta) cocok untuk investasi jangka panjang.

Objective - adalah tujuan. Jadi sebelum kita melakukan investasi, sebaiknya kita tentukan tujuan kita. Apa tujuan kita membeli saham? Jika tujuan kita melakukan pembelian saham adalah untuk tabungan anak atau dana pensiun, maka investasi tahunan dengan metode EPS (Earn Per Share) adalah investasi yang cocok untuk kita. Metode EPS sangat simple, profitable, dan fee yang tidak lebih dari Rp.30.000 per bulan, murah seperti mengelola reksadana sendiri.

Risk - adalah resiko. Kita semua tahu bahwa investasi saham merupakan jenis investasi yang cukup beresiko apalagi jika kita tidak memiliki pengetahuan yang baik tentang investasi ini. Pasar saham bisa bergejolak naik turun dengan cepat, apalagi pasar forex dan komoditas. Dalam hal ini tentu saja kita perlu mengetahui profile resiko sebagai investor, yakni seberapa besar komitmen kita untuk meminimalkan resiko. Dan yang perlu diperhatikan adalah, orang yang melakukan investasi / trading bukanlah orang yang berani mengambil resiko, tetapi yang justru dengan sangat disiplin membatasi resiko.

Dalam Risk Profile, ada beberapa macam karakter investor dan salah satunya adalah investor konservatif. Investor Konservatif adalah investor yang cenderung menghindari resiko dan lebih mencari jalan yang aman. Dan biasanya investor jenis ini adalah para pensiunan yang hanya ingin mendapatkan penghasilan tambahan dari investasi saham. Investor Konservatif adalah tipe investor yang memiliki pengamatan/analisa fundamental bagus dalam memilih saham yang akan dijadikan investasi dan menyimpannya dalam jangka panjang. Para investor konservatif tidak suka dengan fluktuasi pasar dan cenderung mencari aman. 

Selain investor konservatif, ada juga investor moderat. Investor moderat adalah investor yang memiliki tingkat toleransi terhadap resiko yang lebih tinggi asalkan hasil yang di peroleh sepadan atau lebih besar dari yang diinvestasikan. Investor moderat kemampuan menanggung resikonya sedang, imbal hasil lebih besar daripada deposito misalnya 10 - 20 % per tahun. Biasanya investor moderat ini identik dengan position trader yang melakukan beli dan jual dalam jangka waktu 1-3 bulan.

Selanjutnya ada yang disebut sebagai investor agresif. investor agresif adalah investor dengan tingkat toleransi resiko yang tinggi, investor jenis ini biasanya mengharapkan imbal hasil yang tinggi. Investor agresif cenderung aktif dan suka melakukan spekulasi beli dan jual saham, dan cenderung berani. Investor agresif jika tidak dibarengi dengan ilmu dan disiplin yang benar, akan mudah menjadi penjudi saham. Dan sebaiknya kita jujur atau lebih realistis dengan profile resiko dan tujuan investasi, yaitu siap membatasi resiko yang sesuai dengan potensi hasil yang ada.

Namun, yang sering terjadi adalah banyak investor ingin mendapat untung besar, akan tetapi tidak mau membatasi resiko. Padahal di dalam investasi berlaku prinsip "High Risk High Return", investasi yang menawarkan imbal hasil tinggi tentu memiliki resiko yang tinggi pula. Resiko itu sejalan dengan tingkat pengetahuan dari investor. Semakin tereduksi dan semakin tinggi jam terbang seorang investor/trader, resiko akan mengecil. Semakin kecil time frame investasi, semakin besar pula tingkat resikonya. Oleh karena itu, untuk pemula sebaiknya melakukan investasi jangka panjang terlebih dahulu.

Kamis, 26 Maret 2015

Bisnis Konvensional VS Investasi di Pasar Modal, Mana yang Lebih Menguntungkan?

Apabila saya ingin membuat sebuah restoran berdasarkan kesukaan saya pada makanan, atau bahasa ngetrennya kuliner, maka apakah saya membutuhkan modal untuk membuka sebuah rumah makan? Tentu jawabannya adalah iya.

Kira-kira, apa sajakah yang harus direncanakan atau dipersiapkan untuk bisa menjalankan sebuah restoran? Yang pertama tentunya lokasi untuk membuka rumah makan. Katakanlah Anda tidak membeli, namun menyewa lokasi tertentu. Artinya Anda akan mengeluarkan sejumlah biaya sewa, misalnya besarnya Rp 50 juta rupiah untuk 1 tahun.

Lalu setelah menyewa, tentunya Anda perlu mempersiapkan dekorasi dan tata ruang, sehingga lokasi yang Anda sewa nyaman. Pada umumnya, biaya renovasi bisa bernilai hampir sama dengan biaya sewa untuk satu tahun. Jadi katakanlah Anda membutuhkan Rp 50 juta rupiah lagi.

Apakah cukup dengan biaya sewa dan renovasi? 

Ya, tentunya Anda perlu mempersiapkan peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk beroperasi, seperti kompor, kasir, meja, alat makan, dan masih banyak hal lainnya. Katakanlah nilai yang Anda keluarkan untuk persiapan alat dan perlengkapan adalah Rp30 juta. Maka, berapa modal yang Anda perlu siapkan di awal, untuk siap berjualan di rumah makan baru Anda? Ya, nilainya adalah Rp130 juta!

Berhenti sampai di sana? Tidak, karena yang kita hitung barulah modal awal. Bila selesai sampai di sana saja, artinya Anda tidak lagi ingin melanjutkan usaha rumah makan, dan Anda rugi sebesar Rp130 juta. Namun bila Anda lalu mulai menjalankan usaha Anda, yang sudah pasti hilang adalah Rp100 juta yang menjadi biaya sewa dan biaya renovasi. 

Tidak berhenti di sana, Anda akan dihadapkan pada biaya bulanan, mulai dari biaya gaji hingga biaya listrik, air, telepon, dan tentunya ada biaya pemeliharaan bangunan serta hal lainnya.

Jadi bila pada bulan pertama dari berjalannya usaha Anda untung Rp 2 juta (setelah dipotong biaya), apakah secara keseluruhan usaha Anda mengalami keuntungan? Jawabannya belum, karena Break Even Point (BEP) Anda berada di level modal awal sebesar Rp130 juta, yang pasti akan bertambah sebesar Rp50 juta, bila sampai akhir tahun depan Anda harus kembali menyewa lokasi tersebut.

Itulah perhitungan sederhananya, bila Anda ingin membuka sebuah usaha, yang saya ilustrasikan sebagai usaha restoran atau rumah makan.

Apa kesimpulannya? Anda baru akan merasa untung secara keseluruhan bila modal usaha Anda yang sebesar Rp130 juta sudah kembali. Apakah angka itu besar? Apakah akan memakan waktu yang lama? Semua itu bergantung pada seberapa ramai usaha Anda tersebut.

Mari kita beralih ke transaksi pasar modal. Andaikan Anda adalah seorang pebisnis yang ingin menjadi pemilik perusahaan, baik secara jangka panjang maupun jangka pendek. Anda lalu mempersiapkan modal senilai Rp130 juta, tapi belum melakukan transaksi. 

Bila Anda pada akhirnya batal melakukan pembelian atau transaksi, katakanlah untuk sebuah perusahaan obat-obatan yang saham perusahaannya dijual di pasar modal, maka apakah Anda rugi? Jawabannya tidak, Rp130 juta Anda tetap aman sentosa sampai Anda membeli sebuah perusahaan.

Namun sekarang, katakanlah, Anda membeli saham perusahaan farmasi tersebut senilai Rp130 juta rupiah. Dan ternyata, perusahaan farmasi itu mengalami kinerja yang baik, dan nilai atau harga perusahaan meningkat 2 persen atau sebesar Rp2,6 juta. Maka apa yang Anda dapatkan?

Ya, Anda mendapatkan keuntungan sebesar Rp2,6 juta. 

Apakah Anda sudah balik modal atau breakeven? Jawabannya ya, karena saham perusahaan yang Anda jual akan mengembalikan uang Anda sebesar Rp130 juta, ditambah Rp2,6 juta atau 2 persen penambahan nilai.

Hal yang ingin saya sampaikan dalam artikel singkat saya kali ini adalah, di pasar modal, yang sudah diilustrasikan dengan sebuah perusahaan farmasi, Anda mendapat keuntungan secara lebih “aman”, karena modal Anda kembali sesaat setelah saham dari perusahaan farmasi tersebut dijual. Sedangkan untuk restoran, modal awal yang Anda setor tidak bisa Anda dapatkan sebelum ada keuntungan yang lebih besar daripada modal awal.

Mengapa saya menulis kata “aman” dengan menggunakan tanda petik? Karena bila Anda bertransaksi di pasar modal dan membeli saham perusahaan yang tidak baik dan berprospek, itu sama saja dengan terjebak dalam sebuah perusahaan yang merugikan, dan nantinya akan membawa Anda pada kerugian atas modal yang Anda investasikan.

Firma Investasi Brasil Beli Saham Kraft?

Firma investasi asal Brasil, 3G Capital, dikabarkan tertarik membeli saham produsen makanan olahan terbesar kedua di dunia asal Amerika Serikat, Kraft Food Group Inc. Menurut sumber yang mengetahui informasi ini, kedua perusahaan sudah melakukan pembicaraan perihal akuisisi saham Kraft. 

Kepada Reuters, sumber itu menyebutkan kedua perusahaan belum mencapai kesepakatan tentang nilai akuisisi dan jumlah saham yang akan dilepas. 3G Capital dan Kraft hingga kini belum bisa diminta komentar. 

Isu rencana akuisisi langsung mengangkat saham Kraft. Pada perdagangan saham Selasa, 24 Maret 2015 waktu setempat, saham Kraft melonjak 25 persen di posisi US$ 70,55.

Sebelumnya 3G Capital menggandeng firma investasi milik Warren Buffet, Berkshire Hathaway, untuk mengakuisisi H.J. Heinz, produsen saus dan bahan makanan, dengan menggelontorkan US$ 28 miliar atau sekitar Rp 270 triliun.

Seperti dilansir dari Business Insider beberapa waktu lalu, dua perusahaan itu membelanjakan dana masing-masing US$ 4,4 miliar. Kekurangannya ditomboki oleh pinjaman dari J.P. Morgan Chase dan Wells Fargo.

Berkshire dan 3G membeli saham Heinz seharga US$ 60,48 per lembar atau 20 persen di atas harga penutupan Wall Street pada 13 Februari 2013. Para pemegang saham Heinz bakal memperoleh dana tunai US$ 72,50 per lembar saham. 

"Transaksi ini mencerminkan Heinz sebagai merek paling terpandang dalam industri makanan," kata komisaris yang juga kepala eksekutif Heinz, William R. Johnson, beberapa waktu lalu. 

Rupiah Melemah Picu Dana Investor Asing Keluar dari Bursa Saham

Aliran dana investor asing cenderung keluar dari bursa saham sepanjang Maret 2015. Gerak nilai tukar rupiah dan sejumlah kebijakan pemerintah dinilai menjadi faktor yang mendorong aksi jual investor asing itu.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), total dana investor asing yang keluar dari bursa saham mencapai Rp 6,71 triliun pada Maret 2015. Padahal aliran dana investor asing sempat mencapai Rp 10 triliun pada Februari 2015. Meski demikian, pertumbuhan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih positif hingga akhir Maret 2015. IHSG naik 3,42 persen menjadi 5.405 pada penutupan perdagangan saham Rabu 25 Maret 2015.

Kepala Riset PT Bahana Securities, Harry Su menuturkan, pelaku pasar fokus terhadap nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berdampak negatif ke bursa saham. Pelaku pasar khawatir pelemahan rupiah akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan pasar.

Penguatan dolar AS membuat rupiah tertekan pada Maret 2015. Lihat saja kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah berada di level tertinggi 13.237 per dolar AS pada 16 Maret 2015.

Sepanjang awal 2015, rupiah mengalami depresiasi 4,24 persen dari Rp 12.474 per dolar AS menjadi 13.003 per dolar AS pada 26 Maret 2015.

Sementara itu, Kepala Riset PT Universal Broker Securities, Satrio Utomo mengatakan, sentimen negatif datang dari rencana pemerintah menerapkan bea materai untuk transaksi saham. 

Sempat dikabarkan, pengenaan tarif bea materai untuk transaksi saham sekitar 1 persen. Hal itu dikhawatirkan beban investor bertambah mengingat investor juga sudah dikenakan fee beli dan jual transaksi saham.

Satrio menambahkan, sentimen negatif itu mulai berkurang. Hal itu mengingat Direktorat Jenderal Pajak Sigit Pramudito mengatakan, tarif bea materai transaksi saham dan properti sekitar 0,1 persen. "Seharusnya tekanan jual investor asing berkurang dengan ada harapan penerapan bea materai itu sekitar 0,1 persen," kata Satrio.

Satrio memperkirakan, tekanan jual investor asing kemungkinan hingga akhir Maret 2015, dan paling lambat pada pertengahan April 2015.

Selain itu, sentimen rencana bank sentral AS/The Federal Reserve menaikkan suku bunga juga berkurang. Satrio mengatakan, The Fed terlihat mengulur waktu menaikkan suku bunga diharapkan dapat mengangkat rupiah dan indeks saham.

Ia menambahkan, saat ini pelaku pasar cenderung menunggu data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2015. Bila kuartal I 2015 pertumbuhan ekonomi Indonesia membaik maka itu positif untuk bursa saham. Hal itu dapat mendorong aksi beli pelaku pasar.

Sabtu, 31 Januari 2015

4 Tips Sederhana Memilih Portfolio Investasi Saham Ideal

Investasi di pasar modal perlu kecermatan dalam memilih portfolio saham-saham yang dapat memberikan keuntungan bagi investor. Bagaimana cara pemilihan paling ideal?

Yuganur Wijanarko, Senior Research PT HD Capital Tbk., seperti dikutip Bisnis.com dalam laman resminya, Kamis (22/1/2015), menyebutkan berdasarkan riset yang dilakukan, dia menemukan empat tips sederhana dalam memilih saham apa yang dapat dimasukkan ke dalam portfolio.

Berikut 4 tips sederhana memilih portfolio saham ideal:

Cegah keputihan dan kanker serviks [lihat video gejala2 kanker serviks 
click here] bersama dr. Boyke Dian Nugraha, Sp.Og  click here

1. Return on Equity (ROE): Diatas bunga kredit bank
Sebaiknya memilih saham yang memiliki tingkat pengembalian ekuitas (ROE) diatas biaya untuk meminjam dari bank untuk melakukan usaha. Contohnya bila bunga kredit dari bank 11%, maka ROE saham yang dipilih harusnya lebih tinggi dari itu.

Fund Manager mengambil langkah yang lebih kompleks, yaitu mencari ROE saham yang lebih tinggi dari ROE emiten yang ada di pasar modal dan dalam indeks harga saham gabungan (IHSG).

2. Debt to Equity Ratio (ROE): Dibawah 2 kali
Meniru cara investasi saham ala Syariah Islam yang tidak memiliki emiten dengan utang tinggi atau rasio utang terhadap ekuitas datas 2x, juga bisa mengurangi risiko investasi.

Akan tetapi, seiring dengan keadaan dunia saham yang berubah, bila emiten terlihat akan melakukan aksi korporasi yang jelas untuk mengurangi utang, bisa dilakukan pengecualian.

3. Positive Earnings (carilah perusahaan untung) 
Sebaiknya memilih emiten dengan pertumbuhan laba positif dan menjauhi perusahaan yang rugi atau perusahaan yang memiliki earnings negatif.

4. Kapitalisasi besar & liquid (sering diperdagangkan)
Saham-saham yang bisa dipilih misalnya emiten yang tergolong LQ45, atau saham-saham aktif dan bukan merupakan saham tidur. Saham-saham emiten berkapitalisasi pasar besar atau blue chip biasanya direkomendasikan.

link sponsor
+ herbal khas banten atasi ejakulasi dini, dahsyat hasilnya,,, click here
+ paket cara cepat hamil,,, click here

Arsip Blog